HaditsTentang Iman Kepada Rasul Allah - Nusagates. Pengertian, Hikmah [Lengkap] Makalah Iman Kepada Kitab Allah | PDF. Iman Kepada Kitab-kitab Allah (Aqidah Kelas XI) - SekolahMuOnline. Keterkaitan Iman kepada Kitab Allah dengan perilaku sehari-hari - Brainly.co.id. PengertianIman Kepada Rasul, Dalil, Hikmah dan Fungsi Iman Kepada Rasul Allah Lengkap - Iman berasal dari bahasa Arab yang berarti percaya, Iman berarti meyakini dalam hati, mengucapkan dengan lisan dan mengerjakan dengan perbuatan. Makalah Agama Islam: Iman Kepada Rasul Allah Salah satu materi dalam mata pelajaran tersebut adalah Adapuntugas para rasul dan nabi adalah sebagai berikut : 1. Mengerjakan aqidah tauhid, yaitu menanamkan keyakinan kepada umat manusia. 2. Mengajarkan kepada umat manusia bagaimana cara menyembah atau beribadah kepada Allah SWT. 3. Menjelaskan hukum-hukum dan batasan-batasan bagi umatnya, mana hal-hal yang di larang dan yang mana yang harus Rukuniman itu ada enam, yaitu: iman kepada Allah, malaikat-malaikat Allah, kitab-kitab Allah, Rasul-Rasul Allah, hari kiamat dan takdir baik buruk itu dari Allah. 1. Iman kepada Allah Yang dimaksud iman kepada Alah adalah membenarkan adanya Allah swt, dengan cara meyakini dan mengetahui bahwa Allah swt wajib adanya karena dzatnya Jumlahmalaikat sangatlah banyak, hingga tak ada yang mengetahui jumlahnya, kecuali Allah. 3. Iman kepada Kitab-kitab Allah Allah menurunkan kitab-kitabNya kepada para Nabi sebagai pedoman umat manusia untuk hidup didunia agar selamat dunia dan akhirat. Ada 4 kitab yang Allah turunkan kepada para Nabi, yaitu : a. PenjelasanIman Kepad Rasul-Rasul Allah, Lengkap dengan Dalil dan Tugas-tugas Rasul - Hallo sahabat 116Lou.com, Pada Artikel yang anda baca kali ini dengan judul Penjelasan Iman Kepad Rasul-Rasul Allah, Lengkap dengan Dalil dan Tugas-tugas Rasul , kami telah mempersiapkan artikel ini dengan baik untuk anda baca dan ambil informasi didalamnya, mudah-mudahan isi postingan Artikel Iman, Artikel . 100% found this document useful 1 vote353 views27 pagesOriginal TitleMAKALAH IMAN KEPADA ALLAH DAN RASULCopyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?100% found this document useful 1 vote353 views27 pagesMakalah Iman Kepada Allah Dan RasulOriginal TitleMAKALAH IMAN KEPADA ALLAH DAN RASULJump to Page You are on page 1of 27 You're Reading a Free Preview Pages 7 to 15 are not shown in this preview. You're Reading a Free Preview Pages 20 to 25 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime. KATA PENGANTARPuji syukur penyusun ucapkan kepada Allah SWT, yang telah memberikan rahmat dan karunia-Nya sehingga Makalah Iman Kepada Allah ini dapat diselesaikan dengan baik. Tidak lupa shalawat dan salam semoga terlimpahkan kepada Rasulullah Muhammad SAW, keluarganya, sahabatnya, dan kepada kita selaku ucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan Makalah PAI yang berjudul Makalah Iman Kepada Allah ini. Dan kami juga menyadari pentingnya akan sumber bacaan dan referensi internet yang telah membantu dalam memberikan informasi yang akan menjadi bahan makalah. Kami juga mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan arahan serta bimbingannya selama ini sehingga penyusunan makalah dapat dibuat dengan sebaik-baiknya. Kami menyadari masih banyak kekurangan dalam penulisan Makalah Iman Kepada Allah ini sehingga kami mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun demi penyempurnaan makalah mohon maaf jika di dalam makalah ini terdapat banyak kesalahan dan kekurangan, karena kesempurnaan hanya milik Yang Maha Kuasa yaitu Allah SWT, dan kekurangan pasti milik kita sebagai manusia. Semoga Makalah Iman Kepada Allah ini dapat bermanfaat bagi kita Juni 2023PenyusunDAFTAR ISIKATA PENGANTARDAFTAR ISIBAB I PENDAHULUANA. Latar BelakangB. Rumusan MasalahC. TujuanBAB II PEMBAHASANA. Pengertian Iman kepada AllahB. Tanda-tanda Adanya Allah1. Dalil Fitrah2. Dalil Akli Akal3. Dalil NaqliC. Sifat-sifat Allah SWT dalam Al-Quran1. Wujud Ada2. Qidam Terdahulu3. Baqa Kekal4. Mukhalafatu lil Hawadisi Berbeda dengan Semua Makhluk5. Qiyamuhu Binafsihi Berdiri Sendiri6. Wahdaniyah Maha Esa7. Qudrat Kuasa8. Iradat Berkehendak9. Ilmu Mengetahui10. Hayat Hidup11. Sama Mendengar12. Basar Melihat13. Kalam BerfirmanD. Hikmah Iman kepada AllahE. Meningkatkan Iman kepada AllahF. Perilaku yang Mencerminkan Keyakinan akan Sifat-sifat AllahBAB III PENUTUPA. KesimpulanB. SaranDAFTAR PUSTAKADownload Contoh Makalah Iman Kepada IPENDAHULUANA. Latar BelakangAlam semesta beserta isinya, termasuk manusia, merupakan bukti adanya Sang Pencipta sekaligus sebagai pengaturnya. Setiap muslim pasti mengakui bahwa Allah-lah Maha Pencipta dan Pengatur segala sesuatu. Pengakuan tersebut merupakan salah satu wujud keimanan seseorang. Bagi seorang muslim, keimanan kepada Allah merupakan unsur iman yang paling penting. Wajib bagi seorang muslim mempercayai Allah sebagai satu-satunya Tuhan. Bagaimana cara mempercayai adanya Allah dan kekuasaan Allah?Manusia tak mungkin mampu melihat wujud Allah secara langsung, karena dalam sebuah kisah di Al-Qur’an, ketika Allah menampakkan diri kepada gunung pun, gunung tersebut luluh dan hancur. Seorang Nabi, yaitu Musa pun tak mampu menyaksikan Allah secara langsung. Allah memberikan petunjuk kepada manusia untuk memahami Dzat Allah melalui ayat-ayat Al-Qur’an beserta tanda-tanda di alam dasarnya manusia memerlukan bekal untuk mengarungi kehidupan di dunia maupun akhirat. Iman merupakan bekal utama bagi seseorang untuk menentukan arah kehidupannya. Hidup tanpa dilandasi iman ibarat orang tersesat. Orang tersesat tidak mengerti arah mata angin dan tidak tahu ke mana harus melangkah. Betapa pentingnya masalah keimanan ini sehingga sebagai muslim kita semua harus betul-betul memahami hakikat iman, cara beriman, dan kepada siapa kita harus harfiah iman berarti percaya, sedangkan menurut istilah, iman berarti percaya dan meyakini dengan sepenuh hati, mengucapkan dengan lisan, dan membuktikan dengan perbuatan. Tanda-tanda keimanan dalam diri seseorang dapat terlihat dari amal perbuatan yang dikerjakan karena kepribadian diri seseorang merupakan pancaran dari iman yang ada di dalam diri seseorang. Iman kepada Allah Swt. merupakan pokok dari seluruh iman yang tergabung dalam rukun iman. Dengan demikian, keimanan kepada AllahSwt. harus tertanam dengan benar kepada diri seseorang. Sebab jika iman kepada Allah Swt. tidak tertanam dengan benar, kekeliruan ini akan berlanjut terhadap keimanan kepada malaikat, kitab, rasul, hari kiamat, serta qadla’ dan Rumusan MasalahBerdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah yang akan dibahas di dalam makalah tentang Iman kepada Allah ini adalah sebagai berikutApa pengertian iman kepada Allah SWT?Apa saja tanda-tanda adanya Allah SWT?Bagaimana sifat-sifat Allah SWT dalam Al-QuranApa hikmah iman kepada Allah SWT?Bagaimana cara meningkatkan iman kepada Allah SWT?Bagaimana perilaku yang mencerminkan keyakinan akan sifat-sifat Allah SWT?C. TujuanAdapun tujuan dalam penulisan makalah tentang Iman kepada Allah ini adalah sebagai berikutUntuk mengetahui pengertian iman kepada Allah mengetahui tanda-tanda adanya Allah mengetahui sifat-sifat Allah SWT dalam Al-QuranUntuk mengetahui hikmah iman kepada Allah mengetahui cara meningkatkan iman kepada Allah mengetahui perilaku yang mencerminkan keyakinan akan sifat-sifat Allah IIPEMBAHASANA. Pengertian Iman kepada AllahMenurut bahasa, iman berarti percaya atau membenarkan. Menurut ilmu tauhid, iman berarti kepercayaan yang diyakini kebenarannya dalam hati, diucapkan atau diikrarkan lewat lisan, dan dibuktikan lewat perbuatan. Jadi, iman kepada Allah adalah percaya dan meyakini dengan sepenuh hati bahwa Allah itu ada dengan segala sifat kesempurnaan-Nya. Iman kepada Allah meliputi tiga unsur penting, yaitu meyakini lewat hati, mengikrarkan lewat lisan, dan mewujudkan lewat perbuatan amal. Seseorang tidak dapat dikatakan beriman jika hanya melakukan satu atau dua dari tiga komponen tersebut. Ketiganya harus ada, tidak bisa dipisah-pisahkan satu sama lain. Seseorang yang mengaku beriman tetapi hatinya ragu-ragu akan keberadaan Allah, akan jatuh pada kemunafikan. Adapun yang meyakini adanya kekuatan, kekuasaan, atau sembahan selain Allah Swt. akan jatuh pada kepada Allah Swt. dapat dipupuk melalui pemahaman terhadap sifat-sifat Allah Swt. dan ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang keimanan. Selain itu, juga dapat melalui tanda-tanda yang menunjukkan kebenaran dan keberadaan Allah Swt., baik melalui dalil agama maupun ilmu pengetahuan dan teknologi. Seseorang yang meyakini Allah Swt. sebagai Tuhannya, ia setiap saat menyadari bahwa segala sesuatu yang dikerjakannya pasti diketahui oleh Allah Swt. Dengan demikian, orang tersebut selalu berusaha agar yang ia kerjakan mendapatkan keridaan di sisi-Nya. Hal ini karena keimanan kepada Allah Swt. harus meliputi tiga unsur, yaitu keyakinan dalam hati, ikrar dengan lisan, dan pembuktian dengan anggota ada seseorang yang hanya meyakini dalam hati terhadap keberadaan Allah Swt., tetapi tidak membuktikannya dengan amal perbuatan serta ikrar dengan lisan, berarti keimanannya belum sempurna. Ketiga unsur keimanan tersebut memang harus terpadu tanpa bisa dipisahkan. Iman kepada Allah Swt. juga merupakan rukun iman yang pertama dan utama. Umar bin Khattab menjelaskan bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda, “Iman ialah bahwa engkau beriman kepada Allah Swt., kepada malaikat-Nya, kepada kitab-kitab-Nya, kepada rasul-rasul-Nya, kepada hari kiamat, kepada qadar yang baik dan yang buruk.” Muslim. Berdasarkan hadis tersebut, sebelum kita mengimani kepada yang lain, harus memiliki keteguhan iman kepada Allah Swt. Allah Swt. adalah Tuhan yang menciptakan, mengadakan, dan menghancurkan ciptaan-Nya. Kita sebagai makhluk-Nya harus Tanda-tanda Adanya AllahMembuktikan adanya Allah, Sang Pencipta, tidak sama dengan membuktikan adanya berbagai benda di sekitar kita yang hakikatnya adalah makhluk. Makhluk dapat dilihat, diraba, didengar, dan sebagainya. Adapun Zat Allah sangat berbeda, Dia tidak bisa dideteksi menggunakan pancaindra manusia yang memang sangat terbatas. Adanya Allah Swt. merupakan sesuatu yang bersifat aksiomatis sesuatu yang dapat diterima sebagai kebenaran tanpa perlu pembuktian. Meskipun demikian, kita juga dapat mengemukakan dalil-dalil yang menyatakan adanya Allah Swt., untuk memberikan pengertian secara rasional. Tanda-tanda adanya Allah dapat dibuktikan melalui dalil fitrah, dalil akli, dan dalil Dalil FitrahManusia diciptakan dengan fitrah bertuhan, sehingga kadangkala disadari atau tidak, disertai belajar ataupun tidak, naluri berketuhanannya itu akan bangkit Al-A’raf 7172 dan Az-Zukhruf 43 87. Selain itu, adanya pernyataan Rasulullah saw. bahwa kedua orang tua yang menjadikan anak sebagai Nasrani, Yahudi, atau Majusi, tanpa menunjukkan kata menjadikan Islam terkandung maksud bahwa menjadi Islam adalah tuntutan fitrah. Jadi, secara fitrah tidak ada manusia yang menolak adanya Allah sebagai Tuhan yang hakiki, hanya kadang-kadang faktor luar bisa membelokkan dari Tuhan yang hakiki menjadi tuhan-tuhan lain yang Dalil Akli AkalAkal yang digunakan untuk merenungkan keadaan diri manusia dan alam semesta dapat membuktikan adanya Tuhan. Metode yang bisa ditempuh untuk membuktikan adanya Tuhan melalui akal adalah melalui beberapa teori, antara lain teori sebab, keteraturan, dan kemungkinan Achmad Baiquni, 2006.a. Teori SebabSegala sesuatu pasti ada sebab yang melatarbelakanginya. Adanya sesuatu pasti ada yang mengadakan, dan adanya perubahan pasti ada yang mengubahnya. Mustahil sesuatu ada dengan sendirinya. Mustahil pula sesuatu ada dari ketiadaan. Pemikiran tentang sebab ini akan berakhir dengan teori sebab yang utama causa prima, dia adalah Allah Teori KeteraturanAlam semesta dengan seluruh isinya, termasuk matahari, bumi, dan bulan bergerak dengan sangat teratur. Keteraturan ini mustahil berjalan dengan sendirinya, tanpa ada yang mengatur. Siapakah yang mampu mengatur alam semesta ini selain Allah Swt?c. Teori KemungkinanMungkinkah di layar monitor muncul bait-bait puisi yang indah, saat sebuah komputer ditinggalkan dalam keadaan menyala dan tiba-tiba datang seekor tikus yang bermain-main di atas tuts keyboard komputer tersebut? Pasti orang akan menyatakan tidak mungkin. Jika itu tidak mungkin, lantas bagaimanakah alam raya yang lebih rumit dan kompleks terjadi secara kebetulan? Jika alam ini tidak mungkin terjadi dengan kebetulan, maka tentunya alam ini ada yang menciptakannya, yaitu Dalil NaqliMeskipun secara fitrah dan akal manusia telah mampu menangkap adanya Tuhan, namun manusia tetap membutuhkan informasi dari Allah Swt. untuk mengenal zat-Nya. Sebab akal dan fitrah tidak bisa menjelaskan siapa Tuhan yang sebenarnya. Allah menjelaskan tentang jati diri-Nya di dalam firman berikut رَبَّكُمُ ٱللَّهُ ٱلَّذِى خَلَقَ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ فِى سِتَّةِ أَيَّامٍ ثُمَّ ٱسْتَوَىٰ عَلَى ٱلْعَرْشِ يُغْشِى ٱلَّيْلَ ٱلنَّهَارَ يَطْلُبُهُۥ حَثِيثًا وَٱلشَّمْسَ وَٱلْقَمَرَ وَٱلنُّجُومَ مُسَخَّرَٰتٍۭ بِأَمْرِهِۦٓ ۗ أَلَا لَهُ ٱلْخَلْقُ وَٱلْأَمْرُ ۗ تَبَارَكَ ٱللَّهُ رَبُّ ٱلْعَـٰلَمِينَArtinya “Sungguh, Tuhanmu adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat. Dia ciptakan matahari, bulan dan bintang-bintang tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah! Segala penciptaan dan urusan menjadi hak-Nya. Mahasuci Allah, Tuhan seluruh alam“. Al-A’raf 7 54.Ayat ini menjelaskan bahwa Allah Swt adalah pencipta semesta alam dan seisinya, dan Dia pulalah yang mengaturnya. Kalimat “Sesungguhnya Tuhan Kamu adalah Allah” merupakan bentuk penegasan. Adapun kata “Dia bersemayam di atas Arsy” menunjukkan keberadaan Allah. Tetapi perlu diingat, hakikatnya Allah itu bagaimana hanya Allah yang tahu, kita dilarang untuk Sifat-sifat Allah SWT dalam Al-Quran1. Wujud AdaSalah satu sifat Allah Swt. adalah wujud. Wujud berarti ada, lawannya adalah tidak ada atau adam. Keberadaan Allah Swt. dapat dibuktikan dengan keberadaan makhluk-makhluk-Nya. Jika Allah Swt. tidak ada, mustahil tercipta makhluk-makhluk-Nya. Dengan demikian, Allah Swt. ada dengan sendirinya dan lebih dahulu sebelum keberadaan makhluk-makhluk-Nya. Allah Swt. adalah zat gaib sehingga tidak bisa dilihat dengan mata. Meskipun tidak bisa dilihat dengan mata, keberadaan Allah Swt. tetap tampak. Kita bisa merasakan langit, bumi, diri kita, atau makhluk-makhluk lain yang tersebar di penjuru langit dan bumi. Semua itu pasti ada yang menciptakan. Tidak mungkin semua itu ada dengan sendirinya. Dialah Allah Swt. yang memiliki sifat wujud yang menciptakan seluruh Qidam TerdahuluAllah Swt. bersifat dahulu sehingga mustahil baginya bersifat baru. Qidam berarti dahulu, kebalikannya hudus yang artinya baru. Keberadaan Allah Swt. adalah dahulu, tidak baru saja muncul. Allah Swt. adalah yang pertama kali ada sebelum makhluk-Nya ada. Berbeda dengan makhluk, dahulunya Allah Swt. tidak berproses. Coba kita perhatikan proses pertumbuhan manusia. Dahulunya manusia adalah sosok janin yang berkembang menjadi bayi kemudian berkembang lagi menjadi anak-anak. Usia anak-anak meningkat menjadi sosok remaja yang tumbuh hingga usianya semakin tua. Setelah itu, proses kehidupan manusia justru mengalami penurunan. Bahkan, tidak lama setelah itu pasti menghadapi kematian. Dahulunya Allah Swt. menunjukkan Dia ada dan tidak akan musnah dan hilang sampai kapan pun. Keberadaan Allah Swt. yang menjadikan makhluk-Nya ada. Allah Swt. tidak tergantung pada waktu karena Dia yang menciptakan waktu. Allah Swt. telah ada sebelum terciptanya waktu itu Baqa KekalBaqa berarti kekal dan abadi. Kebalikan dari sifat baqa adalah fana atau rusak. Hanya Allah Swt. Yang Maha Abadi. Sebaliknya, makhluk-makhluk-Nya pasti akan menghadapi kematian dan kerusakan. Bahkan, kehidupan yang kita rasakan, pada saatnya nanti juga akan rusak. Sebagaimana dijanjikan oleh Allah Swt., pada hari kiamat kelak, semua makhluk-makhluk-Nya akan hancur lebur. Tidak ada yang abadi kecuali Allah Swt. semata karena Dia memiliki sifat baqa. Memahami bahwa Allah Swt. memiliki sifat baqa mendorong kita untuk semakin mantap dalam beribadah kepada-Nya. Hanya Allah Swt. yang selalu hidup dan abadi yang kita ibadahi dan minta Mukhalafatu lil Hawadisi Berbeda dengan Semua MakhlukSifat mukhalafatu lil hawadisi menunjukkan bahwa Allah Swt. berbeda dengan makhluk-Nya. Sifat Allah Swt. ini sekaligus menunjukkan sifat mustahil-Nya untuk serupa dengan makhluk atau mumasalatu lil hawadisi. Tidak ada satu pun makhluk yang serupa dengan Allah Swt. Untuk menunjukkan bahwa Allah Swt. berbeda dengan makhluk-Nya sangat mudah. Kita memperhatikan bahwa antara pencipta dengan yang diciptakan pasti berbeda. Dengan demikian, tidak tepat jika Allah Swt. dipersamakan dengan malaikat, apalagi dengan manusia atau hewan. Meskipun dalam ayat-ayat Al-Qur’an dijelaskan bahwa Allah Swt. Maha Mendengar dan Maha Melihat, kita tidak perlu memikirkan bentuk mata dan telinga Allah Swt. Untuk menambah pemahaman sifat Allah Swt. ini kita dapat membandingkan dengan sifat manusia. Meskipun manusia dapat membuat rumah, tidak berarti wujud dan bentuk manusia seperti rumah. Begitu halnya dengan Allah Swt., meskipun bisa menciptakan langit, bumi serta seisinya, tidak berarti bahwa Dia seperti makhluk-makhluk Qiyamuhu Binafsihi Berdiri SendiriAllah Swt. bersifat qiyamuhu binafsihi yang artinya Allah Swt. berdiri sendiri. Kebalikannya adalah sifat qiyamuhu bigairih yang berarti membutuhkan pihak lain. Ayat berikut ini menjelaskan sifat qiyamuhu binafsihi. Allah Swt. adalah pencipta segala makhluk-makhluk-Nya. Kemampuan Allah Swt. dalam mencipta tidak bergantung pada makhluk-Nya, tetapi bisa dilakukannya sendiri. Demikian halnya jika Allah Swt. bergantung kepada makhluk, menunjukkan bahwa Allah Swt. memiliki sifat lemah. Padahal, Allah Swt. Mahakuasa atas segala sesuatu. Kita meyakini Allah Swt. sebagai zat yang bersifat qiyamuhu binafsihi. Kita hanya memohon dan meminta pertolongan kepada Allah Swt. yang mampu mandiri dan berdiri Wahdaniyah Maha EsaAllah Swt. memiliki sifat Wahdaniyah yang artinya Allah Swt. Maha Esa. Keesaan Allah Swt. menunjukkan bahwa Dia tidak bersifat terhitung atau taaddud. Allah Swt. adalah tunggal sehingga tidak ada sekutu bagi-Nya. Keesaan Allah Swt. juga menunjukkan bahwa Dia tidak bertambah banyak dan memiliki keturunan. Memahami bahwa Allah Swt. memiliki anak adalah keliru. Esa zat-Nya juga bukan karena hasil penjumlahan atau perkalian, serta perhitungan-perhitungan lainnya. Allah Swt. bersifat tunggal menunjukkan bahwa tidak ada sesuatu pun yang mengungguli, mirip, terlebih serupa dengan Dia. Oleh karena itu, yang pantas kita ibadahi adalah Allah Swt. yang memiliki sifat Qudrat KuasaSifat qudrat yang Allah Swt. miliki berarti D ia Mahakuasa. Kekuasaan Allah Swt. tidak terbatas. Kebalikan dari sifat qudrat adalah ajzun yang artinya lemah. Kekuasaan Allah Swt. berbeda dengan kekuasaan yang dimiliki manusia. Jika kekuasaan manusia sangat tergantung pada orang lain, kekuasaan Allah Swt. tidak demikian. Allah Swt. berkuasa karena kehendak-Nya sendiri. Kekuasaan Allah Swt. juga tidak terbatas. Ia menguasai dalam kemampuan penciptaan makhluk-Nya, dalam pemeliharaan, sekaligus dalam mencabut kehidupan yang terjadi pada makhluk-makhluk-Nya. Mengimani sifat kekuasaan All ah Swt. juga menyadarkan kita bahwa yang patut kita ibadahi dan sembah sujud hanya Allah Swt. Kita dilarang terlalu tunduk kep ada manusia hingga tanpa Iradat BerkehendakAllah Swt. bersifat iradat yang berarti memiliki kehendak untuk melakukan segala sesuatu yang dikehendaki-Nya. Sifat mustahilnya adalah karahah yang berarti terpaksa. Dalam menentukan segala sesuatu, Allah Swt. berkehendak atas diri-Nya sendiri. Tidak tergantung, apalagi dipaksa oleh makhluk-makhluk-Nya. Jika Allah Swt. berkehendak pada sesuatu cukup dengan berfirman, “Kun”, segera jadilah yang Dia kehendaki. Berbeda dengan kehendak manusia yang adakalanya tidak dapat menentukan keinginannya sendiri, tetapi dipengaruhi oleh orang lain. Mengetahui sifat iradat Allah Swt. menyadarkan kita untuk tidak bersikap sombong terhadap sesuatu. Kita harus sadar bahwa Yang Maha Berkehendak adalah Allah Swt. Dalam menjalani hidup, manusia hendaknya selalu berusaha sembari memperbanyak doa. Tentang hasil yang kita peroleh, Allah Swt. yang menetapkan dengan Ilmu MengetahuiSalah satu sifat Allah Swt. yang lain adalah berilmu, pandai, dan mengetahui. Sifat mustahil dari ilmu adalah jahlun. Kepandaian, ilmu, dan pengetahuan Allah Swt. tidak terbatas. Allah Swt. mengetahui atas segala sesuatu, baik yang terlihat ataupun yang gaib. Allah Swt. Maha Berilmu dengan kemampuan dari diri-Nya sendiri. Tidak berilmu karena belajar dari makhluk-Nya atau karena pengalaman. Jika Allah Swt. tidak memiliki ilmu tentu tidak dapat menciptakan alam raya ini dengan segala kesempurnaan. Allah Swt. juga yang menjaganya dengan kemampuan yang Dia Hayat HidupSifat yang pasti dimiliki Allah Swt. adalah hayat. Hayat berarti hidup, sifat mustahilnya adalah maut atau mati. Allah Swt. hidup dan tidak akan mati selamanya. Jika Allah Swt. bersifat maut pasti kehidupan yang ada di alam ini akan rusak. Demikian juga dengan keteraturan tata surya yang tepat di tempatnya, tanpa bertabrakan antara satu dengan yang lain. Allah Swt. hidup abadi, Dia yang menciptakan manusia, menjaganya, mematikan, serta membangkitkannya pada hari kiamat nanti. Zat yang pantas kita sembah adalah yang memiliki sifat hayat. Hanya Allah Swt. yang selalu hidup, sedangkan semua makhluk pasti menghadapi kematian. Dengan demikian, kita tidak perlu menyembah kepada sesuatu yang pada saatnya nanti akan rusak, hancur, dan mati. Hanya Allah Swt. pula yang dapat menjamin kehidupan Sama MendengarAllah Swt. memiliki sifat mendengar. Kemampuan mendengar-Nya tidak terbatas. Bahkan, suara apa pun yang muncul dari makhluk-Nya mampu didengarkan Allah Swt. Sifat mustahil dari sama yaitu summun yang berarti tuli. Kemampuan Allah Swt. dalam mendengarkan tentu sangat berbeda dengan kemampuan yang dimiliki manusia. Manusia hanya mampu mendengarkan suara dalam ukuran-ukuran tertentu. Oleh karena kelemahan yang dimiliki manusia, terkadang tidak dapat membedakan antara suara yang satu dengan suara yang Swt. juga mampu mendengarkan getaran niat dalam hati manusia, persangkaan, harapan, atau cita-cita. Jika kita memiliki niat kebaikan berarti telah didengarkan oleh Allah Swt. sehingga Dia juga memberi balasan pahala. Oleh karena itu, kita perlu menyucikan hati dan menjaga mulut agar mulut ini hanya untuk mengucapkan Basar MelihatSifat Allah Swt. yang juga harus kita imani adalah basar. artinya melihat, sedangkan kebalikannya adalah sifat umyun yang berarti buta. Allah Swt. Maha Melihat dengan kekuasaan mampu melihat semua makhluk. Entah makhluk yang besar, seperti matahari dan bumi ataukah makhluk sekecil atom, mampu dilihat Allah Swt. Bagi Allah Swt. tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi pengawasan-Nya. Sebagai contoh, Allah Swt. mampu melihat pergerakan atom meskipun terhalang oleh benda yang sangat tebal dan besar. Allah Swt. juga mampu melihat hamba yang bersembah sujud kepada-Nya, meskipun tidak tampak oleh mata manusia. Oleh karena kita menyadari pada sifat Allah Swt., hendaknya kita selalu menampilkan amal kebajikan dalam menjalani hidup. Tujuannya tidak untuk mendapat pengawasan, sanjungan, dan penghormatan dari manusia, tetapi agar mendapatkan keridaan Allah Kalam BerfirmanSifat Allah Swt. kalam artinya Allah Swt. wajib memiliki sifat berfirman atau berkata. Sifat mustahilnya adalah bukmun atau bisu. Sifat Allah Swt. berfirman ditunjukkan dengan diturunkannya Al-Qur’an sebagai pedoman hidup bagi manusia. Dengan demikian, sangat jelas bahwa Al-Qur’an bukan buatan manusia, melainkan merupakan firman Allah Swt. Cara Allah Swt. berfirman tidak dapat kita ketahui karena berada di luar jangkauan akal manusia. Sebagai manusia, kita cukup untuk mengimani saja, tanpa perlu memikirkan cara Allah Swt. berfirman. Sifat kalam Allah Swt. sekaligus memberi peneladanan kepada kita agar memanfaatkan lidah kita untuk membicarakan sesuatu yang Hikmah Iman kepada AllahSiapa saja yang menyatakan dirinya telah beriman kepada sifat-sifat Allah swt. haruslah berusaha mengejawantahkannya atau mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebab, keimanan yang sempurna tidak sekadar menunjukkan keyakinan dalam hati dan mengikrarkan dengan lisan, namun harus membuktikan dengan amal perbuatan. Beriman kepada sifat-sifat Allah swt. seharusnya akan membentuk pribadi muslim yang lebih menumbuhkan keyakinan yang utuh tentang keberadaan dan keesaan Allah swt. Seseorang yang memahami sifat-sifat Allah swt. sembari memperhatikan ciptaan-Nya, segera sadar bahwa hanya Allah Yang Mahasempurna. Oleh karena itu, yang harus disembah dan tempat memohon pertolongan hanya Allah swt. semata. Misalnya, ketika mengetahui bahwa Allah swt. memiliki sifat iradat, kita akan sadar bahwa Yang Maha Menentukan segala sesuatu adalah Allah. Sudah sepantasnya jika dalam setiap saat kita selalu berdoa dan memohon kepada Allah membentuk pribadi yang berkualitas. Kita mafhum bahwa Allah swt. Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengetahui. Pemahaman tersebut akan menimbulkan kesadaran bahwa manusia di hadapan Allah swt. hanyalah makhluk kecil yang teramat lemah. Oleh karena itu, tidak ada artinya jika kita bersikap sombong. Kita harus rendah hati seraya berusaha memperbaiki diri. Dengan demikian, kita pun termotivasi untuk selalu berusaha menjadi pribadi yang lebih baik. Contoh, pemahaman sifat qudrat Mahakuasa Allah mendidik kita bersikap optimis. Hal ini karena hanya dengan kekuasaan-Nya segala sesuatu dapat terjadi. Tidak selayaknya kita putus asa, pesimistis, dan minder dalam menghadapi sesuatu. Demikianlah yang seharusnya dimiliki oleh setiap pribadi selalu jujur dalam bertindak dan berkata. Seseorang yang beriman kepada Allah swt. akan bertindak dan berkata jujur. Hal ini karena ia merasa dan yakin bahwa Allah swt. melihat dan mengetahui segala tingkah laku kita. Meskipun tidak ada manusia yang mengetahui perbuatan yang kita lakukan, Allah swt. pasti melihat dan mengetahui. Keyakinan bahwa Allah swt. Maha Melihat dan Maha Mendengar akan mendorong kita untuk berbuat Meningkatkan Iman kepada AllahSetelah memahami sifat-sifat Allah SWT dan tanda-tanda adanya Allah melalui fenomena alam sekitar. Seorang muslim yang beriman kepada Allah adalah ia yang membenarkan keberadaan Allah, meyakini bahwa Allah adalah pencipta langit dan bumi, Maha Mengetahui perkara yang nyata dan gaib, Rabb atas segala sesuatu, tidak ada yang pantas disembah selain Allah, yang memiliki sifat sempurna dan tidak memiliki kekurangan Al-Jaza’iri, 2009 3.Untuk meningkatkan iman kepada Allah SWT, dapat ditempuh dengan langkah-langkah sebagai dan merenungkan kebenaran ayat-ayat Al-Qur’an;Memerhatikan tanda-tanda kebesaran Allah melalui fenomena alam semesta;Mempelajari ilmu muslim yang beriman kepada Allah memiliki sifat-sifat dan perilaku tertentu. Beberapa sifat dan perilaku orang yang beriman kepada Allah antara lainSelalu merasakan kehadiran Allah;Selalu berserah diri kepada Allah;Melaksanakan perintah Allah serta menjauhi tersebut tumbuh seiring dengan meningkatnya iman. Ketika imanmu telah bertambah maka tak perlu diperintahkan untuk berbuat demikian, dan akan melakukannya dengan senang Perilaku yang Mencerminkan Keyakinan akan Sifat-sifat AllahJika seseorang sudah bermakrifat memikirkan dalam-dalam tentang sifat-sifat Tuhannya dengan akal dan hati, maka hal itu akan menjadikan jiwa yang kokoh dan meninggalkan kesan mulia. Bukti keimanan tersebut akan tercermin melalui lisan, sikap, dan perilaku. Berikut perilaku-perilaku yang mencerminkan keyakinan akan sifat-sifat perintah dan menjauhi larangan Allah. Keyakinan akan sifat-sifat Allah menumbuhkan kesadaran untuk senantiasa mengerjakan yang diperintahkan dan menjauhi yang dilarang. Ia menyadari bahwa dialah yang butuh Allah, sedangkan Allah tidak butuh terhadap dirinya yang menggantungkan hidupnya selain kepada Allah. Muslim yang kuat memiliki jiwa yang merdeka. Mereka meyakini bahwa hanya Allah yang memberi kehidupan, keselamatan, kebahagiaan, kematian, dan kedudukan yang mulia. Selain Allah tidak ada yang kuasa melakukannya Al-A’raf 7188.Memiliki keberanian menyampaikan dan membela kebenaran. Keberanian timbul karena keyakinan bahwa Allah yang memberikan segala sesuatu, termasuk umur. Umur tidak akan berkurang karena berani dan tidak akan bertambah dengan bersikap pengecut dan khianat. Ali Imran 3 145, 154, dan An-Nisa’ 4 78.Senantiasa berusaha dan berdoa kepada Allah. Keimanan akan menimbulkan keyakinan bahwa Allah yang memiliki segalanya, dan Dialah yang Mahakuasa mengatur rezeki makhluk-Nya Hud 11 6 serta Al-Ankabut 29 60 dan 62.Memiliki ketenangan hati dan ketenteraman Jiwa. Jika hati tenang dan jiwa tenteram, maka manusia akan merasakan lezatnya kehidupan. Keyakinan bahwa Allah yang menggenggam hidupnya, membuat ia tidak putus asa, bersedih hati, dan gusar menghadapi hidup QS. Al-Baqarah 2 257, Ar-Ra’d 13 28, dan Al-Fat} 48 4.Berdasarkan beberapa contoh di atas, dapat disimpulkan bahwa beriman kepada Allah tidak cukup dengan mengaku. Namun, perlu diusahakan sedemikian rupa agar menjadi cerminan perilaku sehari-hari. Bahkan Allah tidak akan menerima keimanan seseorang sebelum diuji dengan kesusahan, kebahagiaan, kesedihan, kesenangan, harta, dan jiwa Al-Baqarah 2 155 dan Al-Ankabut 29 2-3.BAB IIIPENUTUPA. KesimpulanKata iman berasal dari bahasa Arab yang artinya percaya. Menurut istilah, iman adalah membenarkan dengan hati, diucapkan dengan lisan, dan diamalkan dengan tindakan per-buatan. Dengan demikian, iman kepada Allah dapat diartikan dengan membenarkan dengan hati bahwa Allah itu benar-benar ada dengan segala sifat keagungan dan kesempurnaan-Nya. Selanjutnya, pengakuan ini diikrarkan dengan lisan, serta dibuktikan dengan amal perbuatan secara dapat dikatakan sebagai mukmin orang yang beriman sempurna jika memenuhi ketiga unsur keimanan di atas. Jika seseorang mengakui dalam hatinya tentang keberadaan Allah, tetapi tidak diikrarkan dengan lisan dan dibuktikan dengan amal perbuatan, orang tersebut tidak dapat dikatakan sebagai mukmin yang sempurna. Hal ini karena ketiga unsur keimanan tersebut merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak dapat yang meyakini Allah Swt. sebagai Tuhannya, ia setiap saat menyadari bahwa segala sesuatu yang dikerjakannya pasti diketahui oleh Allah Swt. Dengan demikian, orang tersebut selalu berusaha agar yang ia kerjakan mendapatkan keridaan di sisi-Nya. Hal ini karena keimanan kepada Allah Swt. harus meliputi tiga unsur, yaitu keyakinan dalam hati, ikrar dengan lisan, dan pembuktian dengan anggota ada seseorang yang hanya meyakini dalam hati terhadap keberadaan Allah Swt., tetapi tidak membuktikannya dengan amal perbuatan serta ikrar dengan lisan, berarti keimanannya belum sempurna. Ketiga unsur keimanan tersebut memang harus terpadu tanpa bisa SaranDengan memahami sifat-sifat Allah kita akan lebih mengenali Allah dan menambah iman kita. Selain itu, kita juga dapat merasakan adanya Allah melalui fenomena PUSTAKAAl-Jaza’iri, Abu Baker Jabir, Syeikh. 2009. Minhajul Muslim Pedoman Hidup Ideal Seorang Muslim. Solo Insan Achmad. 2006. Al-Qur’an dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Yogyakarta PT Dana Bakti Siti. 2011. Pendidikan Agama Islam untuk SMP Kelas VII. Jakarta Pusat Kurikulum dan Perbukuan Kementerian Pendidikan Sayyid. 2006. Aqidah Islam Ilmu Tauhid. Bandung Contoh Makalah Iman Kepada BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Iman kepada Rasul-Rasul Allah adalah tanggung jawab, karena iman kepada Rasul-Rasul Allah adalah rukun iman, yaitu yang ke 4. Iman kepada Rasul tidak mempercayai dengan sepenuh hati atas kedatangan Rasul, mulai dari Rasul yang pertama yaitu Nabi Adam sebagai Nabi Rasul terakhir yaitu Nabi Muhammad SAW. Ajaran yang disampaikan oleh para nabi dan Rasul sejak Nabi Adam as sampai Nabi Muhammad SAW. Terbuat dari rangkaian yang memiliki satu tujuan yaitu memuji Allah SWT. Berupa syariat atau hukum tertentu yang akhirnya disampaikan atau di ajarkan kepada orang-orangnya. Oleh karena itu, kita sebagai seorang muslim, wajib beriman atau mempercayai kepada para Rasul Allah dengan hal itu kita akan mengamalkan semua ajaran yang di bawa oleh Rasulullah Allah tersebut. Dengan berpegang hidup pada Allah dan sunah Rasul maka kita akan hidup bahagia di dunia dan juga akhirat. Namun, di dalam kehidupan sehari-hari, kita hanya mengetahui tentang pengertiannya saja, tetapi hanya terbatas, tanpa mengetahui akan semakin lebih dalam dan penerapannya di dalam kehidupan yang kita jalani atau di dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, kami membutuhkan dan menerapkan, memahami dan menerapkannya di dalam kehidupan sehari-hari, tentu saja akan lebih bermanfaat untuk kehidupan dunia dan akhirat kita. B . Tujuan Makalah ini bertujuan untuk mengetahui hal-hal sebagai berikut 1. Untuk mengetahui apa yang mencerminkan iman kepada Rasul. 2. Untuk mengetahui cara kita beriman kepada Rasul Allah. 3. Untuk mengetahui jumlah Rasul yang Wajib Kita Diturunkan dari Sejarah Singkatnya. 4. Untuk mengetahui tugas dari para Rasul Allah. 5. Untuk mengetahui hikmah dari beriman kepada Rasul Allah 6. Untuk informasi bagaimanakah cara kita untuk mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari. BAB II PEMBAHASAN A. PENGERTIAN DAN PENTINGNYA BERIMAN KEPADA RASUL-RASUL ALLAH SWT Rasul adalah manusia pilihan Allah SWT yang memberi amanah untuk menyampaikan wahyu atau membimbing manusia agar berlangsung pada jalan yang benar. Sebagai manusia, rasul memiliki sifat-sifat seperti yang dimiliki manusia lainnya, misalnya makan, minum, bekerja, berkeluarga, dan bermasyarakat. Allah SWT berfirman sebagia berikut 43. Dan kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki yang kami beri wahyu kepada mereka; Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan[828] jika kamu tidak mengetahui, Qs. An-Nahl / 16 43 [828] Yakni orang-orang yang mempunyai pengetahuan tentang nabi dan kitab-kitab. Allah berfirman sebagai berikut 8. Dan tidaklah kami jadikan mereka tubuh-tubuh yang tiada memakan makanan, dan tidak pula mereka itu orang-orang yang kekal. Qs. Al-Anbiya / 218 Orang-orang kafir merasa heran, mengapa rasul-rasul itu terdiri atas manusia biasa, bukan dari golongan malaikat yang suci. Keheranan orang-orang kafir diabadikan oleh Allah SWt dalam firmanNya sebagai berikut 7. Dan mereka berkata “Mengapa Rasul itu memakan makanan dan berjalan di pasar-pasar? Mengapa tidak diturunkan kepadanya seorang malaikat agar malaikat itu memberikan peringatan bersama- sama dengan dia?, Qs. Al-Furqon / 257 B. BUKTI/DALIL TENTANG KEBENARAN ADANYA RASUL-RASUL ALLAH SWT Dengan bukti atau dalil manusia semakin mempercayai sesuatu yang diterima dari seseorang. Adapun bukti datau dalil tentang adanya rasul-rasul Allah SWT, antara lain sebagai berikut 47. Tiap-tiap umat mempunyai rasul; Maka apabila Telah datang Rasul mereka, diberikanlah Keputusan antara mereka[695] dengan adil dan mereka sedikitpun tidak dianiaya. Qs. Yunus / 1047 [695] Maksudnya antara Rasul dan kaumnya yang mendustakannya. Pada ayat di atas dijelakan bahwa rasul berkewajiban menegakkan hukum agama dalam menyelesaikan perkara manusia secara adil, tiada yang dirugikan. 36. Dan sungguhnya kami Telah mengutus Rasul pada tiap-tiap umat untuk menyerukan “Sembahlah Allah saja, dan jauhilah Thaghut[826] itu”, Maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang Telah pasti kesesatan baginya[826]. Maka berjalanlah kamu dimuka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan rasul-rasul. Qs. An-Nahl / 1636 [826] Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah [826] Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah Ayat di atas menjelaskan bahwa setiap rasul yang diutus kepada suatu umat bertugas mengajak manusia untuk menyembah Allah dan menjauhi tagut sembahan selain allah. 84. Dan Ingatlah akan hari ketika kami bangkitkan dari tiap-tiap umat seorang saksi rasul, Kemudian tidak diizinkan kepada orang-orang yang kafir untuk membela diri dan tidak pula mereka dibolehkan meminta ma’af. Qs. An-Nahl / 1684 Menurut ayat di atas, setiap umat kelak di hari akhir saat ditimbang amalnya dihadirkan para rasul masing-masing umat tersebut. Rasul pun menjelaskan bahwa dia telah menyampaikan tugasnya kepada mereka, namun mereka tetap tidak mau beriman. C. NAMA-NAMA RASUL ALLAH SWAT Manusia yang diberi amanah untuk menyampaikan wahyu Allah amat banyak, baik amanah untuk diri sendiri sebagai nabi maupun amanah untuk diri sendiri dan umatnya sebagai rasul. Dalam hadis berikut diriwayatkan tentang jumlah rasul Abi Zar bertanya Ya Rasulullah, berapakah jumlah para nabi? Beliau menjawab Seratus dua puluh empat ribu, yang termasul rasul dari mereka itu sebanyak tiga ratus lima belas, suatu jumlah yang besar HR. Ahmad No, 21257 Rasul Allah sejumlah tiga ratus lima belas orang. Adapun nama-nama di dalam Al-Qur’an ada dua puluh lima 1. Nabi Adam 2. Nabi Idris 3. Nabi Nuh 4. Nabi Hud 5. Nabi Lut 6. Nabi Saleh 7. Nabi Ibrahim 8. Nabi Ismail 9. Nabi Ishak 10. Nabi Yakub 11. Nabi Yusuf 12. Nabi Ayyub 13. Nabi Zulkifli 14. Nabi Syu’aib 15. Nabi Musa 16. Nabi Harun 17. Nabi Dawud 18. Nabi Sulaiman 19. Nabi Ilyas 20. Nabi Alyasa 21. Nabi Yunus 22. Nabi Zakaria 23. Nabi Yahya 24. Nabi Isa 25. Nabi Muhammad SAW D. SIFAT-SIFAT RASUL-RASUL ALLAH SWT 1. Sifat Wajib Rasul a. Sidiq Benar Rasul selalu benar apabila berbicara dan benar pula dalam perbuatannya. Kebenaran ucapan dan perbuatan para rasul telah diungkapkan dalam firman Allah SWT sebagai berikut 52. Mereka berkata “Aduhai celakalah kami! siapakah yang membangkitkan kami dari tempat-tidur kami kubur?”. inilah yang dijanjikan Tuhan yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasulNya. Qs. Yasin / 3652 Allah juga berfirman sebagai berikut 44. Seandainya dia Muhammad mengadakan sebagian perkataan atas nama kami, 45. Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya[1509]. 46. Kemudian benar-benar kami potong urat tali jantungnya. Qs. Al Haqqah / 44 – 46 [1509] Maksudnya Kami beri Tindakan yang sekeras-kerasnya. b. Amanah Dapat Dipercaya Karena kejujuran yang dihidupi para rasul, orang itu memasukkan keadanya. Allah berfirman sebagai berikut 33. Sesungguhnya kami mengetahui bahwasanya apa yang mereka katakan itu pikiran hatimu, janganlah kamu bersedih hati, Karena mereka tidak mendustakan kamu, akan tetapi orang-orang yang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah [469]. Qs. An-An’am / 633 [469] dalam ayat Ini Allah menyebutkan Nabi Muhammad saw dengan menyebutkan bahwa orang-orang musyrikin yang mendustakan nabi, pada hakekatnya adalah mendustakan Allah sendiri, Karena nabi itu diutus untuk Menyampaikan ayat-ayat Allah. c. Tabliq Melaksanakan Tugas Setiap rasul menjalankan tugasnya secara baik terbuka terhadap individu terang-terangan. Allah SWT berfirman sebagai berikut 5. Nuh berkata “Ya Tuhanku Sesungguhnya Aku Telah menyeru kaumku malam dan siang, 6. Maka seruanku itu hanya menambah mereka lari dari kebenaran. 7. Dan Sesungguhnya setiap kali Aku menyeru mereka kepada iman agar Engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan mereka ke dalam telinganya dan menutupkan bajunya kemukanya dan mereka tetap mengingkari dan menyombongkan diri dengan sangat. Qs. Nuh / 71 5-7 d. Fatanah Cerdas Sesungguhnya para rasul bukan golongan kaum terpelajar, tetapi mereka memiliki kecerdasan yang titti dalam menghadapi musuh-musuhnya. 2. Sifat Mustahil bagi Rasul Sebuah. Kazib Dusta Sifat debu hanya dimiliki oleh manusi yang ingin mementingkan dirinya sendiri, sedangkan rasul mementingkan orangnya. Allah SWT berfirman sebagai berikut 44. Seandainya dia Muhammad melaksanakan sebagian perkataan atas nama kami, 45. Niscaya benar-benar kami pegang dia pada tangan kanannya [1509]. 46. Kemudian benar-benar kami potong urat tali hatinya. Qs. Al-Haqqah / 69 44-46 [1509] Maksudnya Kami beri Tindakan yang sekeras-kerasnya. b. Khiyanah Tidak Dapat Dipercaya Sepanjang sejarah belum pernah seorang rasul khianat mempercayai, juga berlaku juga terhadap amanah yang diperoleh dari Allah SWT. c. Kitman Tidak Menyampaikan Wahyu Tuga rasul di dunia adalah menyampaikan wahyu Allah SWT kepada manusia sebagai buku panduan hidup. Semua rasul tabliq atau mengirimkan wahyu dan melupakan kitman aau tersembunyi wahyu yang diamanahkan kepada dirinya. d. Baladah Bodoh Seorang rousl memiliki rugas yang berat. Rosul tidak mungkin seorang yang bodoh. Jika rasul bodoh, ia tidak dapat mengemban amanah Allah SWT jadi runtuhan rasul memiliki sifat bodoh. E. PERILAKU YANG MENCERMINKAN BERIMAN KEPADA RASUL-RASUL ALLAH SWT DAN MENCINTAI NABI MUHAMMAD SAW. KEHIDUPAN Perilaku yang mencerminkan keimanan kepada rasul-rasul Allah dan kecintaan kepada Nabi Muhammad SAW antara lain sebagai berikut 1. Membiasakan diri berperilaku jujur ​​terhadap siapa pun, termasuk sikap jujur ​​para rasul. 2. Berusaha untuk dapat menyampaikan amanah kepada yang pantas menerimanya. 3. Memiliki etos kerja yang baik, Melaksanakan tugas-tugas yang dipikulkan pada dirinya, dan menyesuaikan kemampuan yang menghasilkan secara maksimal. 4. Berusaha untuk memiliki kepekaan dalam menghadapi masalah-masalah tersebut dapat diakses secarat tepat, baik dan sesuai pertimbangan akal sehat. 5. Sebagai seorang muslim dan mulimat kita wajib memiliki akhlak karimah tambahan Rasulullah SAW. F. HIKMAH BERIMAN KEPADA RASUL-RASUL ALLAH 1. Memperoleh penjelasan dari rasul tentang ayat-ayat atau tanda-tanda kebesaran Allah SWT. 2. Jiwa menjadi bersih karena ajaran tauhid yang dilakukan para rasul dari kita akan terbebas dari dosa syirik. 3. Diperoleh Pelajaran tentnag kitab Allah SWT Terutama Al-Qur’an sebagai petunjuk dan buku hidup. 4. Memperoleh tentang hikmah terutama ajarna yang diberikan Rasulullah SAW. BAB III KESIMPULAN A. KESIMPULAN Rasul adalah manusia pilihan Allah SWT yang memberi amanah untuk menyampaikan wahyu atau membimbing manusia agar berlangsung pada jalan yang benar. Sebagai manusia, rasul memiliki sifat-sifat seperti yang dimiliki manusia lainnya, misalnya makan, minum, bekerja, berkeluarga, dan bermasyarakat. Rasul Allah memegang tiga ratus lima belas orang. Nama-nama di dalam Al-Qur’an ada dua puluh lima. B. SARAN Jika muslimin wajib Undang-Undang Rasul-rasul Allah, karena merupakan salah satu rukun iman dan berusaha untuk berperilaku yang mencerminkan iman kita kepada Rasul-Rasul Allah SWT dalam kehidupan sehari-hari. Al Islam 1 Fakultas Teknik, Jurusan Teknik SIpil Universitas Muhammadiyah Mataram 3 Utsaimin menyampaikan dalam kitabnya Syarh Tsalatsatul Ushul, keimanan pada Rasul terkandung empat unsur di dalamnya . Perlu diperhatikan bahwa penyebutan empat di sini bukan berarti pembatasan bahwa hanya ada empat unsur dalam keimanan kepada nabi dan rosul-Nya. 1. Mengimani bahwa Allah benar-benar mengutus para Nabi dan Rasul. Orang yang mengingkari – walaupun satu Rasul – sama saja mengingkari seluruh Rasul. Allah ta’ala berfirman yang artinya, “Kaum Nuh telah mendustakan para rasul.” QS. Asy- Syu’araa 26105. Walaupun kaum Nuh hanya mendustakan nabi Nuh, akan tetapi Allah menjadikan mereka kaum yang mendustai seluruh Rasul. 2. Mengimani nama-nama Nabi dan Rasul yang kita ketahui dan mengimani secara global nama-nama Nabi dan Rasul yang tidak ketahui. 3. Membenarkan berita-berita yang shahih dari para Nabi dan Rasul. 4. Mengamalkan syari’at Nabi dimana Nabi diutus kepada kita. Dan penutup para nabi adalah Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam yang beliau diutus untuk seluruh umat manusia. Sehingga ketika telah datang Nabi Muhammad shallallahu alaihi wa sallam, maka wajib bagi ahlu kitab tunduk dan berserah diri pada Islam Sebagaimana dalam firman-Nya yang artinya, “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepen uhnya.” QS. An- NisaA’ 465 Jumlah Nabi tidaklah terbatas hanya 25 orang dan jumlah Rasul juga tidak terbatas 5 yang kita kenal dengan nama Ulul Azmi. Hal ini berdasarkan hadits dari Abu Dzar Al-Ghifari, ia bertanya pada Rasulullah, “Ya Rasulullah, berapa jumlah rasul? ”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab, “Tiga ratus belasan orang.” HR. Ahmad dishahihkan Syaikh Albani. Dalam riwayat Abu Umamah, Abu Dzar bertanya, “Wahai Rasulullah, berapa tepatnya para nabi? ”, Nabi shallallahu’alaihiwasallam menjawab,“ dan Rasul itu 315 orang.” Namun terdapat pendapat lain dari sebagian ulama yang menyatakan bahwa jumlah Nabi dan Rasul tidak dapat kita ketahui. Wallahu’alam. Tidak diragukan lagi bahwa siapapun ingin hidup bahagia. Masing-masing dalam hidup ini mendambakan ketenangan kedamaian kerukunan dan kesejahteraan. Namun di manakah sebenarnya dapat kita peroleh hal itu semua? Sesungguhnya menurut ajaran Islam hanya iman yang disertai dengan amal shaleh yang dapat menghantarkan kita baik sebagai individu maupun masyarakat ke arah itu. " Barangsiapa yang mengerjakan amal shaleh baik laki-laki-laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yg telah mereka kerjakan. ". Dengan iman umat Islam generasi pendahulu mencapai kejayaan berhasil merubah keadaan dunia dari kegelapan menjadi terang benderang. Dengan iman masyarakat mereka menjadi masyarakat adil dan makmur. Para umara' melaksanakan perintah Allah para ulama beramar ma'ruf dan nahi mungkar dan rakyat saling tolong-menolong atas kebajikan dan kebaikan. Kalimatul Haq mereka junjung tinggi tiada yang mengikat antar mereka selain tali persaudaraan iman. Namun setelah redup cahaya iman di hati kita lenyaplah nilai-nilai kebaikan diantara kita. Masyarakat kita pun menjadi masyarakat yang penuh dengan kebohongan kesombongan kekerasan individualisme keserakahan kerusakan moral dan kemungkaran. Dengan memohon ma'unah Allah makalah singkat ini mencoba menjelaskan beberapa hal yg berkaitan dgn topik tersebut di atas. Iman kepada Rasul-Rasul Allah merupakan suatu kewajiban, karena iman kepada Rasul-Rasul Allah merupakan rukun iman, yaitu yang ke 4. Iman kepada Rasul artinya mempercayai dengan sepenuh hati atas kedatangan Rasul,mulai dari Rasul yang pertama yaitu Nabi Adam as hingga Rasul terakhir yaitu Nabi Muhammad Shalallahu Alaihi Wasallam.

makalah iman kepada rasul allah lengkap